Aku telah Durhaka pada Anakku

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Prestasi anak pasti membuat orang tua bangga. Tapi bukankah itu sama
naifnya-atau tololnya?-dengan anak yang membangga-banggakan orang
tuanya, padahal dia sendiri sesungguhnya bukanlah siapa-siapa? Sekadar
berbagi kerisauan hati…

“Riqueza Raihan Nainggolan!” kata pembawa acara, lantang, disambut
gemuruh tepukan ratusan murid SD Wahidin Medan, dan para orang tua
murid  yang menyaksikan pembagian rapor dan pengumuman peringkat di
sekolah itu.

Echa, bidadari kecilku itu, dituntun wali kelasnya yang tampak
sumringah, melangkah ke depan. Dia peringkat 2 paralel di seluruh
kelas 1, dari 1-A sampai 1-M. Tak bisa kucegah hatiku dari membuncah
oleh rasa bangga yang meluap melimpah ruah. Tak sadar aku bertepuk
tangan, lebih keras, lebih bersemangat, lebih satu menit!, lebih lama
dari siapapun yang ada di situ.

Para orang tua dan guru-guru di dekatku segera tahu, aku ayah anak
yang dipanggil ke depan itu. Rasa bangga itu makin menjadi-jadi. Ingin
rasanya menegaskan kepada mereka yang sedang melihat ke arahku, “Ya,
aku ayah anak itu, aku ayahnya!”

Tingkat kebanggan itu terus naik, hingga kepalaku rasanya mau pecah
karena tak sanggup lagi menampung volumenya, ketika kudengar
bisik-bisik di sebelahku, bahwa di sekolah yang muridnya dominan suku
Tionghoa itu, sangat jarang siswa dari suku lain menjadi pemuncak
peringkat.

Tapi tunggu dulu! Echa sendiri kok malah biasa saja ya, ekspresinya?
Bahkan ketika melihat ayahnya sibuk jeprat-jepret dengan ponsel,
persis wartawan infotainment membidik Manohara, wajahnya tetap datar,
sedatar permukaan danau menjelang pagi. Lho? Malah dari caranya
melirik aksiku, dia seperti berkata dalam hati, “Dasar wartawan!”

Jadi ingat aku, tiap menonton berita di televisi, ketika para jurnalis
mengerumuni atau mengejar-ngejar sumber berita yang kadang sampai
kesulitan bergerak, Echa pernah menyatakan keheranannya. “Wartawan kok
gitu, Pak? Kerja Bapak gitu juga ya?”

Echa tetap tanpa ekspresi. Aku pun menghentikan aksi ala paparazzi.
Aku jadi berpikir sendiri, yang berhasil dapat nilai tinggi itu aku
apa Echa sih? Kok aku yang sibuk tak karu-karuan, Echa malah biasa
saja, seperti merasa tak ada yang pantas dibanggakan, atau dirayakan
dengan cara yang berlebihan. Malah cenderung seperti menahan beban.
Mudah-mudahan cuma perasaanku saja.

Setelah berhasil mengambil empat foto, dua di antaranya buram—tahu
sendiri efek delay foto pakai ponsel, plus fakta bahwa yang ngambil
foto malah lebih banyak gaya dari yang difoto—aku berangsur mundur.
Kebanggan tadi pun mulai mengendur, kemudian tuntas terkubur.

Perlahan, aku merasa seluruh indera mulai kehilangan koneksi dengan
realitas di sekitar. Suara pembawa acara mengumumkan juara paralel
dari kelas lainnya pun mulai terdengar samar. “Calvin Wijaya, Steven
Ongso, Patrick Wang, Eveline Lucky…” (Tentu saja saat itu aku tak
ingat persis nama-nama itu. Aku mengetahuinya dari daftar yang
dibagikan kemudian).

Di tengah kerumunan dan sorak-sorai yang makin ramai itu, aku malah
terasing dalam sunyi pikiranku sendiri. Aku berdiri, bersandar pada
tembok yang ditempeli poster pengumuman penerimaan murid baru. Apa
yang sedang kubanggakan dari prestasi gadis kecil itu? Pada bagian
mana peran pentingku dalam pencapaian prestasinya, sehingga aku bisa
mengambil porsi terbesar dalam perayaannya?

Bukankah mungkin saja, dalam ekspresi datar itu Echasedang mengirim
sebuah pesan. “Lihatlah Ayah, aku tetap bisa berprestasi, dengan semua
kekeliruan, kesalahan, dan ketidakmampuanmu sebagai orang tua. Ayo,
banggalah Ayah, atas kerja kerasku, berlagaklah sebagai pahlawan,
walau akulah yang letih berperang. Pebasket yang bertarung, tapi
cheerleaders yang meraung.”

Satu per satu arsip kedurhakaanku sebagai orang tua kepadanya,
mengalir bagai slide dalam kepala, gambar ingatan dengan resolusi
tinggi. Bahwa satu-satunya hal yang berhasil “kuajarkan” padanya
adalah, “ucapan tidak perlu sama dengan perbuatan”.

*****

Bosan dia mendengar, juga dua adiknya, Zaid dan Juan, bahwa yang
paling penting bagiku, ayah mereka, adalah kebahagiaan keluarga. Tapi
lebih bosan lagi mereka menerima kenyataan, betapa dengan gampangnya
aku membatalkan rencana jalan-jalan bersama mereka ke mall atau ke
manalah itu, karena mendadak ada penugasan atau rapat penting di
kantor. Bapak kerja mati-matian gini, kan demi kalian juga!

Tiap hari mereka kukuliahi—padahal Echa baru kelas 1 SD, Zaid baru TK,
Juan malah masih pipis sembarangan, tapi itu tadi, sudah dipaksa
mengikuti perkuliahan, yang menjemukan karena hanya berisi
pengulangan—bahwa dalam kehidupan ini, uang bukan segalanya. Bahwa
kebahagiaan sejati tidak datang dari materi. Bahwa merekalah sumber
kebahagiaanku yang sejati, dan kepentingan mereka berada di atas
segalanya.

Tapi ketika mereka mencoba menggelayut mesra, atau bertingkah lucu di
depanku dalam usahanya meraih perhatianku, atau menunjukkan hasil
lukisan pemandangan dengan bukit-bukit berwarna pink, dan awan
berwarna ungu, aku akan merasa sangat terganggu. “Bapak sibuk nih, ada
kerjaan penting. Sana main di luar, kenapa?”

Biasanya mereka belum beranjak. Masih menggelayut, menirukan dialog
dalam sinetron Ronaldowati, atau membentangkan lukisan “surealis”
tadi, aku menggelengkan kepala, dan nada suara langsung meningkat satu
oktaf. “Kalian ini memang paling susah dibilangin. Nih, sana jajan di
warung!”

Aku tak pernah tahu, lebih tepatnya tak mau tahu, bukan uang itu yang
mereka minta, tapi perhatianku. Setelah menerima uang lima ribuan itu,
mereka tak pernah pergi ke warung. Uang itu di masukkan ke dalam
celengan plastik. kembali bermain di kamarnya, atau mewarnai lagi
lukisan. Bukit-bukit pink itu kini ditimpa warna merah tua, langit di
atasnya berwarna makin gelap. Seperti senja yang menangis.

Itu baru mata kuliah umum. Ada pula mata kuliah dasar keahlian,
tentang pentingnya menghidupkan kasih sayang, dengan berlaku lemah
lembut kepada sesama anggota keluarga. Saya akan sigap menegur Echa,
untuk tidak kasar kepada adiknya. Bila perlu dengan membentak.

Dalam kuliah tentang kasih dan kelembutan ini, aku tidak jadi dosen
sendirian. Ibu mereka juga seorang guru besar soal ini. Tapi di depan
mereka, aku dan istri malah suka berlomba, siapa duluan mencapai nada
suara tertinggi ketika berdebat. Mereka bahkan lebih heran lagi,
ketika aku malah berbicara sangat sopan dengan tamu yang sesekali
datang ke rumah. Istriku juga bukan main lembutnya, bertegur sapa
dengan orang asing, misalnya ketika sama-sama antri di kasir swalayan.

“Ngga boleh marah-marahan, harus mau saling memaafkan. Allah ngga suka
sama orang yang memutus silaturahmi.” Tapi di depan mereka aku dan
istri sering tak saling tegur sapa, dari pagi sampai pagi lagi. Mukaku
cemberut, wajah istriku merengut. Mukaku yang dari sononya memang
sudah kusut, jadi mirip jeruk purut yang sudah butut. Membayangkannya
pun, wajah Anda dijamin keriput.

Di meja makan saat sarapan, tak juga tercapai genjatan senjata atau
perdamaian. Usaha Echa melakukan mediasi, tentu saja dengan teknik
psikologi anak kelas 1 SD, sekadar bertanya mengapa kami tak ada yang
bicara, malah diganjar bentakan. “Udah, makan yang betul. Jangan
ngomong aja!”

“Jangan bohong, itu dosa. Nanti Tuhan marah.” Tapi bahkan bocah-bocah
ingusan itu pun bisa merasakan ada yang janggal dalam cerita dan
pengakuanku. Aku sendiri kadang sampai lupa, kapan dan tentang apa
saja aku berbohong kepada mereka, atau ibunya.

Di sisi lain–mungkin berkaitan dengan tradisi dusta tadi–mereka juga
menyaksikan bagaimana ibunya makin mirip agen KGB di masa Lenin,
mengawasi gerak-gerik ayah mereka, seolah aku ini antek kapitalis yang
ingin menghancurkan Kremlin.

Begitu suaminya pulang ke rumah, tak akan ditanya sudah makan apa
belum, atau memeriksa apakah organ tubuhnya masih lengkap. Si agen
dengan sigap akan menyita ponselku, mengecek siapa tau ada sms mesra
dari wanita jalang, yang mungkin lupa terhapus. Ketika hasilnya nihil,
dia sudah punya prosedur tetap, check list lengkap. Berikutnya, daftar
panggilan terakhir, kapan, dan berapa lama durasinya. Dari dia aku
tau, daftar panggilan tetap bisa diketahui, walaupun sudah dihapus.
Begitu juga sms, tetap ada datanya. Hanya content atau isi SMS-nya
tidak utuh, hanya beberapa karakter pertama. Jadi, jika SMS itu
diawali dengan kata, “Sayang”, itu sudah cukup untuk mengundang
petaka.

Hebatnya, ketika tak menemukan hal mencurigakan, bukannya senang sang
suami ternyata terjaga dari kesesatan. Kadang malah jadi terlihat
seperti berpikir keras lagi. Persis seperti jaksa yang putar otak
untuk tetap menjerat terdakwa, yang eksepsinya baru saja dikabulkan
hakim. Bukan untuk menemukan kebenaran dan keadilan, tetapi
membuktikan dia memang salah, seperti kuperkirakan.

Dan si Agen merangkap jaksa itulah, yang juga nyambi jadi ustadzah,
memberi ceramah tentang pentingnya rasa percaya. Putrinya, yang
seperti anak seusianya di zaman serbadigital ini, dalam usia dini
sudah dicekoki sinetron picisan di televisi, memang sudah mulai
bertanya apa itu cinta. “Cinta itu berarti harus percaya, nggak boleh
curiga. Juga ngga boleh bohong sama yang kita cintai. Jadi, cinta itu
kejujuran sama kepercayaan, Cha”. Untunglah Echa tidak menginterupsi
ceramah itu, menyimpulkan kedua orang tuanya ternyata tidak saling
mencintai. “Kan sering bohong dan saling curiga?”

Dan daftar memalukan ini bisa sangat panjang jika diteruskan… Entahlah
pada keluarga lain, tetapi di rumah kami, itulah yang kerap terjadi.

Anak-anak itu, bocah polos titipan surga, tak pernah bisa mengerti,
mengapa ucapan kami ke kanan tindakan kami ke kiri. Mereka sering
bingung, karena dituntut untuk berpikir seperti orang dewasa, ketika
kami menyemprotnya dengan kata-kata semacam, “Kok susah ‘kali sih
ngertinya kalian?”

Padahal kamilah, ayah dan ibunya, yang justru tak mau mengerti mereka
masih bocah, dan tak mungkin dipaksa punya logika seperti orang
tuanya. Seakan kami tak pernah menjadi anak-anak seperti mereka.

Oiya, ada satu lagi mata kuliah keahlian: Sejarah! Mereka harus betah
mendengar kisah kami tentang susahnya masa lalu, jalan kaki ke
sekolah, bantu ibu kerja di sawah, makan tanpa lauk, dst. “Kalian
sekarang serba enak, sekolah diantar jemput, di rumah bisa main PS!”

Mereka adalah manusia hari esok, tapi kami sesaki jiwanya dengan
kisah-kisah kemarin.

*****

Pengumuman peringkat itu sudah selesai. Proses mencaci-maki diri
sendiri itu terpaksa kuakhiri. Echa mendekat, lirih menyampaikan
permintaan maaf. “Echa udah belajar yang rajin, Pak, tapi ngga bisa
ranking 1 juga.  Bapak ngga marah kan?” Aku jadi sedih, sekaligus
lega. Wajahnya yang tampak kurang bahagia itu ternyata karena merasa
gagal jadi #1, bukan karena menyerapahi kedunguan orang tuanya.

“Ya nggaklah, Kak. Bapak aja dulu cuma ranking 3”.

“Lho, katanya dulu Bapak ranking 1 terus?”

Ops, tuh kan aku sudah berbohong lagi, dan biar tidak dianggap
berbohong, aku terpaksa berbohong sekali lagi. “Hehehe, nggak, bohong
Bapak waktu itu. Cuma rangking 3 kok. Yuk, pulang dulu ke rumah, ganti
baju. Makan-makan kita ke mall ya? Nanti kita cariin hadiah untuk
Kakak. Kemarin minta tas Barbie ya? ”

Reaksinya kemudian seperti mencopoti sendi-sendiku. “Jalan-jalan, Pak?
Emangnya, Bapak ngga ada rapat penting di kantor? Nanti Bapak dimarahi
lho gara-gara Echa! Kata Bapak, kantornya rugi besar kalau Bapak ngga
ada?”

Aku segera menjawab dengan tegas, lebih tegas dari Proklamasi 1945.
“Mulai sekarang, dipecat pun ngga apa-apa, Nak. Bapak bisa cari
pekerjaan lain, tapi tidak bidadari kecil lain.” Proklamasi yang hanya
terucap di dalam hati, tentu saja. Tau sendiri susahnya cari kerja
sekarang.

“Nggak. Bapak udah permisi kok. Tadi pagi Bapak udah bilang, mau
jalan-jalan sama anak Bapak yang jadi juara di sekolah. Bos Bapak
senang kok, malah kirim salam dia sama Kakak. Kakak hebat katanya!”

“Lho, tapi kan barusan juaranya diumumkan. Kok Bapak udah tau dari tadi pagi?”

Aha! Aku lupa sedang berhadapan dengan juara paralel. OK. Kau boleh
pintar, Nak, tapi jam terbang Bapak sudah tinggi. “Kan Bapak sudah
tahu Kakak bakal juara, karena Bapak lihat Kakak rajin kali
belajarnya.”

Barangkali dia mau menjawab lagi, “Lho bukannya Bapak kemarin itu
marah-marah terus, bilang Echa bakal tinggal kelas kalau belajarnya
malas gitu?”

Tapi dia memilih diam. “Kembangkan terus kebohonganmu, Pak. Yang
penting aku bisa mencicipi sekeping waktumu, di tengah padatnya
pekerjaanmu, banyaknya rapat yang mesti Bapak ikuti, dan kariermu yang
terus melejit di kantor.” Karier dari Hongkong!

Tangan mungilnya menggenggam tanganku, saat kami menuju tempat parkir.
Kebanggaan itu mungkin harus kulepas karena memang bukan hakku, tetapi
sebagai gantinya aku seperti menemukan sesuatu yang lebih penting,
yang selama ini hilang, atau lebih tepatnya, tanpa sadar telah
kusingkirkan.

“Kau juara, Nak. Bapakmu malah tinggal kelas. Tapi ngga apa-apa. Bapak
akan belajar lagi dari awal…”

*****

Sambil nyetir, aku menghubungi istri, biar dia dan dua adik Echa
siap-siap. “Kita makan-makan ya, Mak, Echa juara lho!”

“Oiya? Siapa dulu dong Ibunya!” Speaker ponselku seperti mau retak
dihantam suara penuh kebanggan itu. Memang berjodohlah kita. Naifnya
klop!

“Justru itu, tadi rupanya sudah disiapkan jadwal buat Ibunda Echa,
untuk menyampaikan pidato sambutan, sekaligus pengarahan kepada para
orang tua murid, bagaimana cara mendidik anak menjadi juara. Tapi
karena Ibunda Echa ngga ada, terpaksa diganti dengan atraksi
Barongsai.”

“Sayang ya, Pak. Kalau gitu, Bapak cepatlah kemari, bawa perlengkapan.
Mamak mau gelar konferensi pers!”

“Oh, maaf, Bu, media kami ngga terbit besok, untuk menghormati
keberhasilan Echa.”

Di sebelahku, Echa tak mau ambil pusing dengan percakapan penuh ilusi,
antara ayah dan ibunya. Bante kalianlah situ. Toh cakap ilusi masih
lebih baik dari cakap emosi.

Sepanjang jalan, dia masih saja memelototi daftar peringkat itu.
Selisih tiga nilai saja!

Ingin rasanya kuhibur dia. “Jangan sedih, Kak. Yang juara satu itu
mungkin masih ada hubungan keluarga sama yang punya sekolah. Wajarlah
dia juara!”

Tapi tadi aku sudah berjanji, tidak mencekokinya racun lebih banyak
lagi. Tak bisa mendidik, mbok ya jangan merusak. Tak bisa membantunya
tumbuh, setidaknya jangan membuatnya rubuh.

Di luar kulihat orang bersimbah peluh, ditampar matahari yang bersinar
penuh.  Hari sudah berlalu separuh.

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)