Anak Cerdas Tidak Ditentukan Banyaknya Sel Otak

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)
Cetak Email

PADA saat lahir setiap anak memiliki sekitar 100 miliar sel otak. Namun kecerdasan anak tidak ditentukan banyaknya sel otak, melainkan jumlah terjadinya hubungan antarsel otak, yang disebut snaps.

Stimulasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mendorong terjadinya hubungan antarsel otak bayi. Kekuatan dan jumlah hubungan antarsel syaraf menjadi dasar untuk membantu proses belajarnya menjadi semakin cepat.

Tanpa stimulasi yang baik dan tepat, perkembangan otak anak menjadi kurang optimal. Akibatnya snaps yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Di sinilah pentingnya pemberian stimulasi secara rutin.

Ya, stimulasi perlu dilakukan secara rutin. Karena, setiap kali anak berpikir atau memfungsikan otaknya akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut.

Seperti diungkapkan dr Muliaman Mansyur pada Seminar Stimulasi Kecerdasan Anak di Medan, pekan lalu, bahkan stimulasi secara terus menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak makin baik.

Orang tua memiliki peranan besar dalam memberikan stimulasi dan mengembangkan pola asuh anak. Namun, harus diakui dengan segudang kesibukan orang tua, tidak memberikan perhatian penuh kepada anak.

Muliaman menyebutkan salah satu metode yang dipakai untuk menyiasati kebersamaan yang berkualitas dalam waktu sempit adalah floor time. Orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama selama 20-30 menit tanpa interupsi untuk berinteraksi dan bermain.

Otak anak berkembang 175 persen dalam 36 bulan pertama kehidupannya. Periode emas itu hanya terjadi satu kali seumur hidup, tidak bisa diulang. Orang tua sebaiknya membekali buah hati dengan nutrisi otak yang sehat dan seimbang demi kecerdasan optimal yang akan dibawa kini dan nanti.

Anak belajar dari lingkungan sekitar. Anak akan melihat, mendengar, membayangkan dan merasakan apa yang terjadi di sekitarnya. Kemudian dia mengingatkan atau meniru rangsangan yang dia terima, sebelum akhirnya mengembangkan bahkan menciptakan sendiri sesuatu yang baru berdasarkan apa yang pernah dialami panca inderanya.Dari sanalah kreativitas terbentuk.

Namun kemampuan belajar dari lingkungan sekitar antara satu anak dan anak lain menurut Muliaman berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh kualitas otak. Semakin berkualitas otak seorang anak, semakin cepat dia menyerap impuls lingkungan. Kualitas otak ditentukan dari jumlah sel otak, jumlah pencabangan sel otak, hubungan antarsel otak atau biasa disebut sinaps.

“Keberadaan neutrotransmitter atau zat yang mengaktifkan snaps dan mielinisasi atau kualitas selubung yang berperan pada kecepatan hantaran impuls antarsel syaraf,” jelas Muliaman yang juga Brand Manager Anmum System, Fontera Brands Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, faktor genetika berperan dalam kualitas otak anak. Namun faktor yang punya peranan lebih besar adalah nutrisi dan stimulasi yang diterima oleh anak selama periode emas tadi.

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, termasuk untuk otak bayi. Di dalam ASI terkandung protein, karbohidrat, lemak, asam lemak, vitamin dan meneral paling lengkap dan seimbang.

Ini untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak disamping manfaat asam lemak esensial AA dan DHA yang krusial bagi kecerdasan. Selain itu terdapat gangliosida yang punya andil besar untuk menentukan kualitas otak. Selain protein, karbohidrat dan lemak mikronutrien vitamin dan mineral juga memegang peranan penting dalam perkembangan otak.

Konsentrasi

Agar anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan mengasah kecerdasan, perlu didukung dengan tubuh sehat bebas penyakit. Penelitian yang dilakukan Prof Sunil Sazawal MD, MPH,PhD, lektor kepala dari Departement of International Health, Bloomberg School of Public Health, John Hopkins University,Baltimore menemukan bahwa mikronutrien seperti yang terkandung dalam nutrivit (Vit A,C,E,Selenium, Zat Besi, Seng dan FOS (Fiber) dengan rasio tertentu dapat meningkatkan daya tahan tubuh 317 anak usia 1-3 tahun terhadap berbagai risiko penyakit seperti diare, anemia, infeksi saluran pernafasan bawah dan mengurangi angka kesakitan.

Justru itu ingat Muliaman jangan mengabaikan peranan mikronutrien sebagai nutrisi penting yang sangat diperlukan selama masa emas perkembangan otak. (bachtiar adamy)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)