curhat seorang Psikolog anak

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

 

Bacaan bagus buat parents, mudah2an kita tidak *memaksakan* kehendak yaa

Rasanya, mendekati awal Mei aku selalu gundah. Di catatan-catatan yang tersebar
di Friendster dan blog, ada jejaknya. Tahun-tahun lalu Ujian Nasional lah
penyebabnya. Tahun 2009, hmmm.. inilah yang terjadi.

Di rumahku, setiap
sore beberapa anak berkumpul untuk belajar. Macam-macam belajarnya, dengan
tujuan persiapan masuk SD dan pemantapan pelajaran SD tingkat dasar. Yang
dipelajari adalah bahasa Indonesia, Matematika, dan bahasa Inggris. Anak yang
sudah lancar baca dan tulis belajar untuk mencintai bahasa melalui pemahaman.
Nonton film, buat resume, mengarang, membuat sinopsis buku, mengenal puisi,
macam-macam. Matematika tak hanya berhitung, tapi membentuk logika berpikir.
Ups, aku gak lagi promo yaa,, 🙂 Untuk anak-anak yang belum bisa
baca-tulis-hitung, yaa, belajar lah untuk bisa baca-tulis-hitung. Untuk yang
satu ini, aku mensyaratkan usia 5 tahun dan duduk di TK-B untuk mengikutinya.
Mulai dari kenal abjad, mengenal suku kata, merangkai kata, termasuk menulisnya.
Semuanya menyenangkan tentunya. Tanpa paksaan dan mengikuti kemampuan anak.

Suatu hari, seorang Ibu datang membawa anak lelakinya. Dari sikapnya,
aku menduga dia baru berusia 4 tahun. Ternyata betul, ia masih duduk di TK A dan
berusia 4 tahun. Ibunya ingin ia ikut kegiatan belajar membaca dan menulis. Dia
kutolak. Si Ibu tetap memaksa. Katanya, “Saya dengar dari teman saya, katanya
anak usia 3 tahun sudah bisa membaca dan menulis karena belajar di sini,” Hah?
Hahahaha, saya jelaskan, bahwa baru mulai tahun ajaran ini kami membuka kelas
seperti ini. Dan, yang dimaksud kawannya adalah Thifa, anakku sendiri. Aku ralat
bahwa Thifa bisa membaca di usia 3 tahun 2 bulan, dan menulis lancar baru diusia
3,5 tahun hampir 4 tahun. Dia memaksa dan aku menolak. Tidak. Aku bisa mengajari
anakku sendiri di usia itu karena dia hidup denganku, hidup dengan buku, dan
memang sudah siap untuk membaca. Dia tetap memaksa. Aku tetap menolak.

Dua bulan kemudian, Sang Ibu datang kembali. Dikatakannya bahwa anaknya
sudah berulang tahun ke-5 dan meminta untuk membaca. Anaknya hanya diam dan
tidak menjawab ketika diajak berbicang. Anaknya belum kenal huruf apa pun,
kecuali bernyanyi, “A..B..C..D..E..F..G”Hari pertama, anaknyanya tak bersuara
dan lebih tertarik membolak-balik buku. Pekan berikutnya, ia hanya datang di
setengah jam terakhir karena hujan deras. Pekan ketiga, anak itu tidur di atas
meja sepanjang pertemuan. Pekan keempat, sang anak tidak mau masuk kelas. Aku
hanya tersenyum. Kawan-kawanku yang ikut mengajar hanya saling pandang. Itu
sudah kami prediksikan sebelum menerima anak ini. Ibunya yang punya ambisi.
Anaknya yang menjadi korban. Ibunya berjanji ini itu pada sang anak demi ia
masuk ke dalam kelas. Tidak sampai 5 menit, bukan lagi janji yang keluar dari
mulut sang Ibu, tapi ancaman satu demi satu. Oh ya, anak ini bersekolah di TK
lain, bukan di Bestari. Akhirnya si anak masuk setelah ditawarkan mainan untuk
dimainkan di dalam kelas. Tak lama, sang Ibu menyusul masuk membawa buku tulis
bersampul dan bergambar jeruk. Ini PR nya dari sekolah, membuat angka 9 yang
kami kira itu huruf g. Karena anak-anak bimbinganku sedang membuat resume film
yang baru ditontonnya, aku mengambil alih pembelajaran si anak. Ternyata, ia
hanya kenal huruf yang diajarkan di pertemuan sebelumnya, yaitu A dan B. Huruf C
dan D belum dikenalnya karena ia tidur di kelas. Aku bermain-main dengannya,
membuat huruf B dan A dari binatang-binatang dan membaca suku kata. Menarik
garis bebas, mengikuti titik-titik, dan ini tampak membuatnya senang.
Menurutnya, guru di sekolah tidak pernah mengajarkan caranya menarik garis
dengan mengikuti titik-titik. Buku PR ternyata berisi menuliskan angka-angka
sebanyak 24 buah per halamannya. Tapi, si anak tak tahu angka yang
dituliskannya. Di dalam buku tulis, angka-angkanya rapih, berada dalam satu
baris. Sedangkan anak ini masih belum bisa mengendalikan gerakannya. Tekanannya
amat kuat dan tarikan garisnya kaku. Hmm, tak heran kalau mengerjakan PR menulis
menjadi masalah untuknya. Kami terus bermain-main, berlatih kekuatan lengan,
menarik garis lebih luwes, dan menuliskan angka 9 tanpa batasan garis.

setelah jam selesai, Ibunya datang menjemput. Pertanyaannya di depan
pintu terhadap si anak, “Belajar huruf apa hari ini?” Anaknya diam saja. Lalu si
Ibu membuka buku PR dan melihat si angka 9 yang ditolak sang anak untuk
mengerjakannya, “Lho kok begini ngerjain PR-nya?” Aku sudah siap untuk menjawab
jika sang Ibu bertanya padaku, tapi ia tidak. Jadi kubiarkan saja. Hatiku sedih.
Hanya sebegitukah dia menghargai anaknya dan menghargai kami? Hanya setara
dengan selembar kertas berisi 24 buah angka 9? Ia tidak sadar bahwa angka 9 yang
menjadi PR itu akan menghancurkan anaknya. Tapi aku hanya diam. Aku marah pada
sang Ibu. Aku kasihan pada sang anak. Kalau aku bicara, saat itu emosi yang
menguasaiku. Kubiarkan saja mereka pulang. Pekan depan akan kujelaskan
perkembangan dan kemampuan anaknya. Tapi, mereka datang kembali tadi malam.
Dalam mimpiku. Ah, tidurku tak pulas karenanya. Hhhh..

(Alzena Masykouri – penulis adalah psikolog anak dan remaja)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)