Siapa saja yg sudah menemukan bahwa betapa labilnya keinginan, betapa bahayanya keinginan yg berlebihan, akan menemukan kebahagiaan. Apa yg dicari & dikejar segera bisa ditemukan di dalam diri dgn sebuah syarat sederhana, yaitu berkecukupan.

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Apapun keseharian manusia, bersekolah, bersawah, bekerja, berdoa, sampai olah spiritual, hampir semuanya menyebut kebahagiaan sbg tujuan yg dicari.

 

Kebanyakan orang mengidentikkan kebahagiaan dgn terpenuhinya keinginan. Makan enak, tidur nyenyak, rekreasi ke tempat indah sampai wisata spiritual ke tempat suci, semuanya masuk dalam klasifikasi ini.

 

Ciri utama kebahagiaan jenis ini adalah ia berumur pendek, menimbulkan kemelekatan, kemudian menjadi hulu penderitaan. Runtutan logikanya sederhana, diawali dgn keinginan yg minta dipenuhi.

 

Sekali dipenuhi, ia minta lagi dlm kadar yg lebih tinggi. Keinginan yg semakin tinggi yg tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Ini menjelaskan kenapa banyak orang kaya menderita.

 

Orang kaya menderita bukan krn kekurangan uang, tapi berharap berlebihan dari uangnya, berharap dgn uang maka semua orang hormat, semua waktu indah. Tentu saja tidak bisa dipenuhi di semua keadaan sehingga akhirnya menimbulkan kekecewaan.

 

Siapa saja yg sudah menemukan bahwa betapa labilnya keinginan, betapa bahayanya keinginan yg berlebihan, akan menemukan kebahagiaan. Apa yg dicari & dikejar segera bisa ditemukan di dalam diri dgn sebuah syarat sederhana, yaitu berkecukupan.

 

Merasa berkecukupan itulah kekayaan yg agung & akan menjadi langkah penting menuju pencerahan. Rasa berkecukupan akan membimbing orang2 jenis ini memasuki gerbang kesempurnaan.

 

Jalalludin Rumi adalah salah seorang yg sudah sampai disini, perhatikan salah satu puisinya: “Hidup itu serupa tinggal di losmen, tiap hari tamunya berganti, dan siapa pun tamunya jangan pernah lelah utk tersenyum.”

 

Bunda Teresa juga sudah sampai disini, perhatikan salah satu warisannya: “Bila mau berkontribusi pd kedamaian dunia, pulang sayangi keluarga.”

 

YM Dalai Lama serupa, perhatikan intisari ajarannya : “Yang terpenting banyaklah menolong, bila tidak bisa menolong, cukup tidak menyakiti.” Sumber: “Cahaya Kedamaian” (Gede Prama)

 

Selamat pagi Sahabat 🙂

 

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)