Hikmah Sepele Yang Menjengkelkan

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

 

Oleh: M Yusuf*

Hal-hal sepele sering kali membuat jengkel. Karena hal-hal inilah
kerap mengganggu kegiatan utama kita, yang bahkan sampai
mengacaukan kegiatan tersebut. Tapi benarkah hal itu merugikan
kita ?
Bulan Agustus 2 tahun lalu kita disibukkan kegiatan menghias
sepedanya Zidan, anak saya. Di kampung ada lomba sepeda hias.
Kita berencana sejak lama untuk berpartisipasi. Mulai pagi kita
sudah sibuk sampai 2 mbak (pembantu rumah tangga) membantu
menghias sepeda.

Ramai sekali di garasi, tempat kita menghias sepeda. Apalagi saya
bawa radio ke sini. Sampai-sampai banyak tetangga datang
melongok melihat keriuhan ini. Termasuk anak-anak yatim piatu
yang tinggalnya beberapa rumah di samping rumah.

Akhirnya selesai selewat siang hari. Sebenarnya belum sempurna
betul. Namun saya minta untuk menghentikan menghias, karena
acaranya sudah hampir dimulai.

Sepedanya Zidan tampak bagus. Warna-warni dengan rumbai-
rumbai. Hampir semua bagian dihias dengan kertas hias. Tidak ada
satupun yang terlewat. Kita sampai optimis menang.

Namun ternyata Zidan tiba-tiba mogok. Tidak mau ikut. Tidak mau
mandi. Dibujuk-bujuk segala upaya, tetap tidak mau, bahkan mulai
mengangis. Kita sudah mulai kehilangan kesabaran. Bagaimana tidak
? Hal-hal yang sudah kita lakukan bisa jadi sia-sia. Apalagi acara
sudah hampir dimulai.

Saya putus asa. Akhirnya kita putuskan tidak ikut. Semua kecewa,
apalagi mamanya yang optimis menang. Zidan masih ngambek di
kamar. Saya menghela nafas dan tiba-tiba saya sadar anak-anak
yatim piatu mengawasi hal ini. Ya sudah, daripada nganggur, saya
minta salah satu anak yatim piatu membawa sepeda untuk dibawa
pawai.

Saya tak tahu, apakah Zidan terhitung ikut atau tidak sebagai peserta
lomba karena sudah hampir dimulai. Dan juga bukan sebagai pemilik
asli sepedanya. Tapi yang jelas anak yatim piatu itu dan teman-
teman lainnya senang. Mereka bergantian menaikinya, meski ada
satu anak yang saya minta seperti yang bertanggung jawab.

Anehnya setelah itu, Zidan tidak ngambek lagi. Dia minta ikut pawai
meski minta gendong pundak. Setelah dia mandi kita kejar pawainya
karena sudah berangkat. Terengah-engah saya mengejar meski
akhirnya kita semua ikut pawai.

Saya merenung adakah hikmah dari mogoknya Zidan ini. Apakah
mogoknya Zidan memberi peluang kegembiraan bagi anak-anak
yatim piatu ? Karena sebagai anak-anak mereka juga ingin
merasakan kegembiraan bersepeda berpawai yang dilihat banyak
orang. Namun apa daya sebagai anak yatim piatu tidaklah bisa
demikian (cerita lebih lengkapnya bisa dibaca di
http://m.yusuf.web.id/v20/blog/index.php?act=detail&p_id=408).

Mungkin Tuhan telah merencanakan ini sebagai hal yang terbaik
bagi kita semua.

Betapa kita dalam hidup keseharian sering diganggu hal-hal kecil.
Sepele, yang tidak kita duga. Seringkali menjengkelkan karena
kegiatan utama kita menjadi terganggu bahkan terhenti. Namun
ternyata ada banyak hikmah di dalamnya. Ada maksud tersembunyi
yang mungkin telah disiapkan Tuhan untuk kita.

Saya jadi paham setelah membaca sebuah artikel tentang
pemboman WTC. Ternyata banyak juga yang selamat. Bukan karena
kemujuran atau usaha menyelematkan diri yang heroik, tapi karena
mereka terlambat datang ke WTC. Dan itu semua bagi orang
kebanyakan adalah hal-hal sepele yang menjengkelkan.

Ada kepala keamanan perusahaan selamat karena mengantar
anaknya hari pertama masuk TK. Karyawan yang lain masih hidup
karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas
anaknya. Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya
tidak berbunyi tepat waktu. Seorang karyawan terlambat karena
terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Seorang
karyawan tidak memperoleh taxi.

Ada juga karena ketinggalan bus. Gara-gara bajunya tertumpah
makanan, seorang karyawan selamat karena harus berganti pakaian.
Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan. Seorang
karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon
yang berdering. Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-
malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat
bersama-sama. Bahkan ada yang selamat karena harus beli plester
untuk kakinya yang lecet karena dia memakai sepatu baru.

Jadi jika suatu pagi kita merasa semuanya terlihat sangat kacau;
anak-anak lambat berpakaian, kunci kendaraan entah terselip di
mana, setiap sampai perempatan selalu lampu merah, jangan
terburu-buru marah atau frustrasi, karena bisa saja Tuhan sedang
bekerja untuk menjaga kehidupan kita ! Tuhan mempunyai rencana
yang terbaik buat kita.

Sekarang, jika kita terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan
lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon.. dan semua
HAL SEPELE yang menjengkelkan, pahamilah mungkin Tuhan
menginginkan kita menjalankan suatu rencana yang terbaik bagi
kita.

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)