Apa sih HUKUM KARMA itu?

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

HUKUM KARMA

“Berbuat Baik untuk MEMBAYAR UTANG KARMA”. Ini adalah pernyataan yang tidak asing bagi kita, dan sering kita dengar. Benarkah pernyataan ini ?

Pernyataan ini seolah-olah HUKUM KARMA adalah HUKUM TAMBAH KURANG, dimana dengan melakukan KARMA BAIK, maka kita BISA MENGURANGI atau MELUNASI HUTANG KARMA BURUK KITA.

Padahal HUKUM KARMA sesungguhnya adalah HUKUM SEBAB AKIBAT, bukan hukum tambah kurang.

Artinya adalah SEMUA SEBAB (KARMA) akan MENGHASILKAN AKIBATNYA masing2 sesuai dengan BOBOTNYA, BILA KONDISINYA sudah “PAS”.

Baik itu KARMA BAIK ataupun KARMA BURUK tetap akan menghasilkan AKIBATNYA masing2 sesuai dengan bobotnya bila kondisinya sudah PAS, tidak bisa saling mengurangi apalagi meniadakan (bayar hutang).

PERBUATAN BAIK (KARMA BAIK) adalah bagaikan PAYUNG yang bisa MELINDUNGI kita dari HUJAN. Namun ingatlah bahwa PAYUNG tidak bisa menghentikan HUJAN, apalagi meniadakan HUJAN.

Demikianlah KARMA BAIK bila kondisinya sudah PAS, buahnya (AKIBATNYA) bisa melindungi kita mengurangi penderitaan yang di AKIBATKAN oleh KARMA BURUK kita, namun tidak bisa membayar hutang atau mengurangi KARMA BURUK kita.

Bila GARAM adalah KARMA BURUK,
AIR PUTIH adalah KARMA BAIK,
CANGKIR adalah DIRI KITA, dan
RASA adalah AKIBAT/BUAH KARMA.

Maka sebanyak apapun AIR PUTIH yang dimasukkan kedalam CANGKIR yang berisi GARAM, TIDAK AKAN mengurangi GARAM yang telah berada didalamnya, NAMUN AIR PUTIH MAMPU mengurangi RASA ASIN yang di AKIBATKAN oleh GARAM tersebut.

Semoga dengan menyadari bahwa KARMA BAIK TIDAK BISA dan BUKAN UNTUK membayar HUTANG KARMA BURUK, kita tidak lagi berprinsip bahwa BERBUAT BAIK untuk MELUNASI HUTANG KARMA BURUK kita, namun BERBUAT BAIKLAH karena PERBUATAN BAIK itu MEMANG BAIK adanya…

Semoga Semua Makhluk Berbahagia.
Have a blessed night 🙂

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Hukum Karma

Bila seseorang melakukan suatu tindakan tertentu pada suatu obyek HIDUP yang tidak bersalah, dan obyek tsb tidak melakukan perlawanan pada waktu itu. Ada kemungkinan orang tsb pada WAKTU YANG AKAN DATANG akan terkena suatu tindakan balasan yang HAMPIR MIRIP dengan tindakannya di masa lalu.
Dan anehnya yang melakukan tindakan balasan terhadap orang tsb bukanlah obyek yang sama dengan obyek di waktu dulu.
contoh simple: bila kita senyum ama orang lain, kita pasti akan mendapatkan senyum dari orang lain(orang lain yang senyum ama kita, bukan berarti orang yang kita senyumin tadi ya…)
cerita saya sendiri : saya cuek sekali dan nggak suka dengan seseorang yang sangat suka dengan saya. dan akhirnya saya suka seseorang tapi dia sama sekali tidak menyukai saya dan memilih teman saya. sakit hati. ini mungkin bentuk kharma.
contoh lain. ada tetangga,dia bukan org hindu,tapi akhirnya dia percaya bahwa hukum karma itu berlaku pada diri dan perbuatan yg kita lakukan.dia cerita bahwa dia pernah pernah menipu orang. empat tahun kemudian dia ditipu org lebih dari yg pernah dia tipu,waktu muda dia pernah mencuri duit bapaknya,tanpa pernah mempedulikan bagaimana sakit hati bapaknya saat itu,akhirnya lama kemudian duitnya di curi orang lima kali lipat dari yang pernah dia curi dari bapaknya.itu sakit hati sekali.pernah dia juga memukul temannya, sudah minta maafpun masih dipukuli. dan dia suatu saat waktu nyepeda motor ketempat kerja tiba tiba ban pecah dan karena kecepatan tinggi dan parah harus masuk rumah sakit.
Sampai sekarang dia cerita bahwa mencoba untuk tdk mengulangi hal2 yg membuat pelajaran dalam hidupnya,jelas rasa takut hukum karma itu akan timbul.
jadi hukum kharma akan mengikuti kita sepanjang akhir jaman.
apa yang ditamam apa yang ditunai.