Jeritan Keledai

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Seorang cendekia bernama Cheufat
hidup pada zaman dinasti Beng di Kabupaten Pingyang.
Kepintarannya sudah sangat mahir ketika masih
kanak-kanak. Pada usia tujuh tahun, dia sudah mampu
mengubah sajak dan syair dengan baik. Saat berusia 16
(enam belas) tahun, keahlian dalam kesusasteraannya,
sehingga ia mendapat julukan ‘sastrawan Pingyang’ dan
sangat dikagumi serta disegani.

Namun suatu hal yang sangat disayangkan adalah
sifatnya yang amat angkuh dan mudah tersinggung, hal
mana mungkin disebabkan terlalu dimanjakan oleh sanak
keluarganya semenjak kecil. Barangkali mereka tidak
mengira; kesombongan itu dapat menghancurkan seluruh
hidupnya?c.

Pada suatu tahun, ketika Cheufat akan berangkat ke
ibukota untuk mengikuti ujian negara, kedua orang
tuanya membanting tulang berusaha meminjam uang ke
sana kemari untuk membekali biaya perjalanan dan biaya
ujian anaknya. Tetapi Cheufat sama sekali tidak
menghargainya, ia merasa masih serba kekurangan, kalau
bukan baju barunya yang kelonggaran, topinya yang
ketinggalan zaman, warna sepatunya yang sudah terlalu
tua?c ataupun yang lainnya. Ada saja
ketidakberesan yang dirasakan olehnya. Melihat
keserakahan anaknya yang sudah kelewatan, ayahnya
menasihati:

“Anakku sayang, janganlah merasa serba kekurangan,
kami sudah banyak menguras otak dan tenaga untuk
keberangkatanmu, kalau masih saja tidak puas, kami
sudah benar-benar tidak sanggup lagi….”

Mendengar kata-kata ayahnya, bukan hatinya yang
tergerak, bahkan dengan lantang dia mengatakan:

“Aku adalah jelmaan dewa, orang yang berezeki, orang
semiskin seperti Anda mana pantas menjadi ayahku!”

Bukan main tersinggungnya perasaan ayahnya mendengar
kata-kata terakhir keluar dari mulut putranya sendiri,
sehingga pingsan tak sadarkan diri. Setelah mendapat
pertolongan dokter, barulah ayahnya sadar kembali.

Pada malam itu juga Cheufat bermimpi. Dia diseret ke
alam neraka untuk menghadap raja penguasa neraka.
Dengan tegas raja neraka mengatakan:
“Sekalipun kini Anda berbadan manusia, tetapi dengan
durhakanya Anda terhadap orang tua, dalam dimensi
alaya (batin) telah tumbuh bibit-bibit kebinatangan.
Bila bibit-bibit kebinatangan itu sudah masak kelak,
Anda akan kehilangan badan manusia dan menjadi hewan.”

Cheufat terbahak-bahak, lalu dengan tenang dia
membantah:
“Saya berkata kepada ayah itu sesuai dengan kenyataan
yang sebenarnya, kapankah saya menghinanya? Kapankah
saya durhaka pada orang tua?!”

Berhenti sejenak, lalu disambung kembali
pembicaraannya:
“Apalagi saya seorang yang cerdik dan pandai, dari
segi mana pun tidak mungkin, bahwa saya akan berubah
menjadi binatang. Hai! Raja neraka kata-katamu itu
tidak bisa saya terima.”

Raja neraka tidak marah, bahkan dia menjelaskannya
dengan penuh kesedihan:
“Memang, pada masa kehidupan sekarang Anda tergolong
orang yang pintar, itu sesuai dengan karma yang Anda
tanam pada kehidupan yang lalu. Tetapi pada kehidupan
ini, Anda tidak menanam kembali bibit-bibit karma yang
baik, malahan bertindak sembrono, sombong dan congkak,
suka emosi dan durhaka?c, ini berarti Anda
telah menanamkan bibit-bibit kebinatangan; Anda
sombong dan congkak, dalam pandangan Anda tiada orang
lain, maka pada kehidupan yang akan datang Anda akan
terlahir kembali menjadi seekor keledai, ditutupi mata
oleh manusia dan dipaksa untuk bekerja keras.”
Seketika Cheufat lalu menjadi takut dan cemas sekali
sehingga dia terjaga dari mimpinya.

Keesokan harinya, Cheufat jatuh sakit, mulutnya
terkatup rapat, dari tenggorokannya keluar suara aneh
yang mirip dengan suara jeritan seekor keledai. Segala
macam usaha pengobatan dilakukan, tetapi sia-sia saja,
para dokter tidak berhasil mendiagnosa penyakit apa
yang diderita pasiennya itu.

Demikianlah balasan karma untuk orang yang durhaka,
Cheufat menjerit-jerit dengan suara yang mirip jeritan
seekor keledai hingga meninggal dunia dalam waktu yang
hanya dua hari saja.

(Sumber: Buku Cerita Karma)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)