KALUNG MUTIARA IMITASI

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Suatu hari, Rita, 8 tahun yang ikut ibunya belanja di pasar melihat
seuntai kalung mutiara dari plastik dijual di sebuah took kelontong.
Rita sangat suka kalung itu dan minta ibunya untuk membelikannya.

“ Kalung ini memang cantik, tapi harganya lumayan mahal, Rp. 25.000,-
Saya akan membelikan jalung itu, tapi nanti di rumah kita buat daftar
tugas yang harus kami kerjakan untuk membayar harga kalung itu. Jangan
lupa, kemungkinan Nenek akan memberimu RP. 10.000,- untuk hadiah ulang
tahunmu. Setuju ?” Tanya ibunya.

Rita setuju. Ibunya lalu membelikan kalung Mutiara itu untuknya.
Setiap hari, rita bekerja sangat keras dan sangat yakin, neneknya akan
memberinya Rp. 10.000,- untuk hadiah ulang tahun. Akhirnya Rita
berhasil juga melunasi harga kalung itu dan merasa sangat senang.
Kalung itu dipakainya setiap hari, ke mana pun pergi, ke sekolah,
ketika bermain dengan teman-temannya atau saat jalan-jalan dengan
ibunya. Sampai tidur pun kalung itu tidak dilepas.

Suatu malam, sebelum Rita tidur, ayahnya seperti biasa membacakan
dongeng favoritnya. Selesai membacakan cerita, ayahnya berkata “ Rita,
kamu sayang sama saya ?”

“ O ya, Ayah pasti tahu, saya sayang ayah,” katanya.

“Kalau begitu, kasih saya kalungmu itu,” pinta ayahnya.

“O Ayah, jangan kalung ini. Bagaimana kala saya kasih Ayah boneka
Rosie, boneka kesayanganku. Ayah masih ingat kan boneka itu ? itu kan
hadiah ulang tahun dari Ayah tahun lalu. Nanti saya kasih baju
pestanya juga, mau kan ?” tanyanya.

O, tidak, sayang, tidak apa-apa,’ kata ayahnya sambil mencium pipinya.
Selamat malam, putri kecilku. Tambahnya.

Seminggu kemudian, untuk kedua kalinya usah membacakan ceritanya
Ayahnya kembali menanyakan hal yang sama.

,”O Ayah, tentu saja, Ayah tahu saya sayang sama Ayah, tapi jangan
kalung itu, bagaimana dengan mainan kuda-kudaan saya ? Ayah masih
ingat kan ? itu juga boneka kesayangan saya. Rambutnya begitu halus
dan Ayah bisa mengepangnya. ‘ kata Rita.

“ Ya sudah, tidak apa-apa,” sahut ayahnya sambil mencium pipinya.’
Selamat tidur, mimpi indah.”

Beberapa hari kemudian, ketika ayahnya datang untuk membacakan cerita
pengantar tidur, Rita duduk di ranjangnya. Bibirnya gemetar.

“ Ini , Ayah,” katanya sambil mengulurkan tangannya. Ia membuka
tangannya dan kalung mutiaranya ada di dalamnya. Lalu meletakkan
kalung itu di tangan ayahnya. Sambil memegang kalung mutiara itu
dengan tangan yang satu, ayahnya mengeluarkan sebuah kotak beludru
dari saku celananya dengan tangan yang lain. Di dalam kotak itu
terdapat seuntai kalung mutiara asli yang indah. Kalung itu
dikantonginya. Ia menunggu rita memberikan kalung murah itu sehingga
dia bisa memberikan kalung asli kepadanya.

Moral cerita :

Seperti inilah yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan Maha Kasih
menunggu kita melepaskan segala sesuatu yang ‘murah’ dalam hidup kita
agar DIA bisa memberikan sesuatu yang lebih indah dan berharga.
Kita sering memegang sesuatu yang Tuhan ingin kita lepaskan, sesuatu
yang berbahaya : sifat negative, kebiasaan buruk yang membuat terikat
dan sulit melepaskan, trauma masa lalu, kepahitan, sakit hati,
kepedihan, kehilangan dan sebagainya.
Kadang kita tidak tahu apa sebenarnya yang kita pegang dan upayakan
terus dipertahankan. Andaipun kita berusaha melepaskannya namun sangat
kesulitan karena cengkraman kepahitan itu begitu kuat, satu hal yang
harus dipercaya, bahwa Tuhan selalu memberikan sesuatu yang lebih baik
sebagai pengganti sesuatu yang buruk yang kita lepaskan.
Kita tak akan bisa meraih atau memegang sesuatu yang lebih baik, jika
kita tak mau melepas sesuatu yang buruk dalam genggaman kita. Kita
hanya bisa meraih kebaikan, jika mau melepas keburukan. Bisa meraih
yang positif, jiga kamu melepas yang negative.

(Aura)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)