KEHANGATAN MELINDUNGI DAN MENJAGA PERASAAN

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

 

 

(FLICKR)
(FLICKR)

(Epochtimes.co.id)

Setelah menyelesaikan rutinitas pagi hari, saya bersiap-siap pergi ke kantor. Tiba-tiba, terlihat ayah dengan terburu-buru berjalan ke halaman depan. Belum habis keheranan saya, terdengar suara pintu pagar depan rumah terbuka. Ternyata ayah sedang “melaksanakan tugas” setianya, mengantarkan kepergian anak-anaknya.

Diam-diam ia menunjukkan perhatian dan harapannya sebagai seorang ayah. Hal ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kehangatan  melindungi dan menjaga perasaan tersebut, walau tidak bisa dijelaskan secara utuh tetapi membuat anak-anaknya selalu mengingatnya.

Ayah yang hampir berusia tujuh puluh tahun, tumbuh dalam kehidupan serba kekurangan. Sejak kecil ayah berwatak keras dan tidak banyak bicara, acapkali bertindak kasar sehingga ibu sering mengeluh. Pertengkaran mulut menjadi hal yang biasa bagi mereka. Namun yang patut disyukuri, usai bertengkar kedua pihak sama-sama tidak memasukkannya dalam hati. Mereka tetap mengarungi hidup seperti biasa, saling bergantung dan menemani, bercerita dan membicarakan berita.

Bahkan mereka bisa saling menjaga dan melayani ketika salah seorang sedang sakit. Saya pikir saat mereka menikah dulu, mungkin tidak mengucapkan sumpah akan tetap saling menjaga dan melindungi di setiap badai kehidupan, namun tindakan mereka telah menjelaskannya. Suami istri bisa melakukannya, kehangatan hubungan mereka bagaikan air yang mengalir perlahan, tidak kalah dibandingkan dengan percintaan yang menggetarkan jiwa.

Ibu juga dilahirkan dalam keluarga yang serba kekurangan. Sejak kecil sudah terbiasa bekerja keras membanting tulang, namun Ibu setia dalam menjaga dan melindungi keluarganya. Tidak peduli malam seberapa larut, Ibu pasti tetap menunggu hingga orang yang keluar rumah pulang dengan selamat, setelah itu baru Ibu bisa tidur dengan tenang. Saya juga pernah beberapa kali memberikan nasihat agar Ibu tidak perlu cemas, dan agar tidak mengacaukan jadwal tidurnya sendiri. Namun tindak-an “menunggu pintu” rupanya sudah menjadi suatu kewajiban baginya. Walaupun hati ini sedikit tidak tega tetapi juga membiarkan dia melakukan kemauannya.

Masih ada lagi, ibu menggunakan keterampilan memasaknya untuk mengungkapkan kasih sayang dan perhatian kepada seluruh anggota keluarga. Khususnya dalam hal ini, Ibu sama sekali tidak memandangnya enteng. Ibu mengetahui sekali kegemaran suami dan anak-anak serta cucu-cucunya. Saat keluarga berkumpul, setiap anggota keluarga akan mendapatkan hidangan favorit masing-masing, sungguh memuaskan.

Waktu berlalu cepat bagaikan anak panah. Ayah dan ibu yang dulu menjaga dan melindungi keluarga dengan sepenuh hati, wajah mereka kini sudah menjadi keriput dan rambutnya sudah memutih. Kondisi tubuh juga berangsur-angsur melemah. Acapkali dalam melakukan sesuatu, mereka menghela napas berat karena kemampuan sudah tidak sepadan dengan yang dikehendaki.

Beberapa hari lalu, ayah sempat terjatuh dan masuk rumah sakit, saat itu saya tiba-tiba tersadar bahwa mereka berdua sudah menua. Selama dalam pemulihan, adik perempuan beserta suami yang bertugas menjemput dan mengantarkan berobat. Sedangkan adik laki-laki dan istri rajin menjenguk dan menghiburnya. Adik bungsu yang selama ini dimanjakan, juga turut memikul tanggung jawab sebagai seorang anak yang paling bungsu.“Kecelakaan” tersebut justru membawa hikmah tersendiri, kini ia lebih bisa merasakan dan memahami perasaan ayah dan ibu, sedangkan waktu yang“tidak menentu” ini, ternyata adalah sebuah mata pelajaran yang mengandung arti sangat mendalam, mana bisa melewatkan kesempatan ini?

Saya teringat pada sebuah puisi ciptaan seorang penyair Taiwan, yang mengutarakan perasaan mendalam antara bapak dengan anak.

Kira-kira begini terjemahannya:

Pulang kantor senja telah tiba.
Terkadang tampak ambang petang nan indah, namun tak akan singgah dan berhenti.
Karena wajah kecilmu yang menatap ayah, menyiratkan harapan lebih.
Selesai lembur hari semakin larut malam.
Terkadang menatap semaraknya langit berbintang, namun tidak terhanyut.
Karena wajah kecilmu yang tertidur pulas lebih menawan daripada langit yang berbintang.
Ayah setiap hari pergi dan pulang bekerja.
Seperti gasing yang terus berputar-putar.
Biarkanlah kebanggaan Ayah yang penuh semangat ini, satu per satu berubah menjadi kelembutan hati.
Seperti kakek dan nenek merajut sebuah perlindungan panjang dan kerap bagi kehidupan Ayah.
Anakku sayang! Ayah sama sekali tak mengeluh.
Karena ini beban terberat dalam kehidupan, namun juga yang termanis.

Tak diragukan lagi kehangatan melindungi dan menjaga perasaan yang diwariskan turun-temurun, adalah yang paling alami dan murni. Karena ini yang terberat juga yang termanis, maka patut mempersembahkan dan mengupayakannya dengan sepenuh jiwa, sehingga kepada dunia yang penuh kesulitan dan kesengsaraan ini dapat ditambahkan rasa yang lembut, manis dan indah!  (Fang Jing / The Epoch Times / lin)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)