Kisah sepasang manusia

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Berarti sudah dua tahun aku menjalin kasih dengan George. Menghadapi
George rasanya seperti bersama sahabat lama. Aku berkenalan dengannya
saat pesta pertunangan Genta dan kekasihnya, Hariman. George, pria
yang amat baik, sabar dan humoris. Sulit untuk menolak pria
sepertinya. Ia jatuh cinta padaku, begitu juga denganku. Bayangkan
betapa berjodohnya kami, George dan Georgina. Sama-sama menyukai
sepakbola, terutama Italia. Satu lagi, kami menyukai es krim!

Berkasihan dengannya rasanya begitu membahagiakan. Tapi kini rasanya
aku akan khilangan dia. SEGERA!!!!
“KAMU BERCANDA?” George memastikan. Tatapan matanya tidak ingin
mempercayai apa yang didengarnya barusan.
“Aku serius, George. Aku sudah tidak perawan lagi” jawabku pelan
sambil menatapnya dengan pilu. Pedih melihat hatinya yang terluka
terlukis di sepasang matanya yang tajam.
“Mengapa baru kamu katakan sekarang ketika aku melamarmu?” tanyanya
dengan suara serak.
“George, aku tak pernah menyangka akan menikah denganmu. Selama ini
aku selalu gagal membina hubungan, jadi aku tak pernah berharap
terlalu banyak. Maafkan aku tlah mengecewakanmu. Tapi lebih baik
kukatakan sekarang daripada kamu kecewa di malam pengantin kita yang
tanpa darah” jawabku sendu.
“Dengan siapa kamu melakukannya?” tanya George menyelidik. Aku
menggeleng. Tak ingin menjawab. Suasana hening, rasanya lebih dingin
daripada ruangan yang berhantu.
“Aku masih sangat naif. Aku pikir akan menikah dengannya. Aku
melakukannya dengan penuh cinta. Tapi ternyata aku kehilangan dia. Ia
menikah dengan wanita lain” aku menjawab dengan susah payah. Menahan
air mataku agar tidak tumpah. George membuka mulutnya, seakan ingin
bertanya lagi.
“Sudah cukup jangan bahas dia lagi karena itu melukaiku. Kalau ingin
berpisah denganku, katakan saja. Tak usah menginterogasiku seperti
ini, bila akhirnya kau meninggalkanku juga” kataku lagi memotongnya
segera.

George diam saja. Hatinya terluka, jelas terlihat dari raut wajahnya.
Tatapan matanya kosong. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tahu semuanya
sudah selesai. Sungguh aku sangat berharap dia akan memanggilku
seperti di film-film, tapi ternyata ia tak melakukan itu. Tak kudengar
suaranya memanggil namaku. Berakhir sudah. Aku tlah benar-benar
kehilangan dia.

Aku selalu memikirkan hal itu. Sungguhkah setiap pria membutuhkan
melihat tetasan darah segar di malam pengantinnya? Lalu bagaimana
wanita tahu kaum pria sudah pernah berhubungan intim atau belum,
karena tak ada tanda-tanda fisik selain tanda kejujuran hatinya?
Adilkah ini, Allah? Dia yang dulu begitu kucintai dan kuserahkan
keperawananku ternyata tidak berjodoh denganku. Lalu aku dengan siapa?

“Aku mati-matian berusaha melupakanmu. Kalau kamu sekarang muncul
lagi, kamu akan membuatku berharap lagi dan aku akan makin terluka”
kataku sambil melangkah pergi meninggalkannya . George tlah menantiku
di depan studio seperti yang selalu dilakukannya dulu waktu kami masih
berkasihan. Kali ini aku tak ingin dia memanggil namaku. Dan kalau pun
ia memanggil, aku tak akan berhenti untuknya. “Georgina” panggilnya.
Ia memanggil. Hatiku rasanya seperti kesetrum tapi aku tak boleh
berhenti. Menoleh pun jangan. “Georgina” panggilnya lagi, tapi kali
ini disusul dengan lari kecil mengejarku dan ia memegang erat tangan
kananku. “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku” katanya cepat dan
tegas. Langkah kakiku semakin ku percepat. “Kamu dengar aku?” suaranya
terdengar keras dan kesal. Ia tak mau melepaskan tanganku. “Sebaiknya
kamu menikah dengan wanita lain saja. Yang bukan hanya mencintaimu
tapi juga masih perawan” jawabku dingin. Tak berani menatap matanya
yang selalu membuatku tergetar. Aku tahu kau sangat mencintaiku,
begitu juga dengan aku. Tapi aku tak tega melihatmu bersedih ketika
malam pengantin nanti.
“Maumu apa, Ge?” tanyanya putus asa. Aku menangis. Ia memelukku erat-erat.
“Maafkan aku tlah menyakitimu” kata George berbisik di telingaku.
Aku menggeleng, “Tidak. Aku yang tlah menyakitimu” aku berganti berbisik.
” Dengar aku” George melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua
tanganku. Dan mencari mataku. Kami bertatapan, “Persetan dengan darah
itu. Aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jangan
tinggalkan aku. Aku mohon, sayank” kata George memohon.

Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, kau sudah menjadi urat nadiku.
Ya Allah, bila aku masuk surga dan ia masuk neraka karena perzinahan
itu, tukarlah tempat kami. Atau, izinkan aku ke neraka menemaninya,
menderita bersamanya. Aku cinta wanita ini, Allah. Sedikitpun aku tak
layak menghakiminya.

Georgina, sayankku, pria yang bersamamu di malam itu, dia yang
memerawanimu memang beruntung. Namun aku yang paling beruntung karena
mendapatkan dirimu, cintamu. Dan HATIMU.

Wanitaku yang jujur. Kuganti kejujuranmu dengan rasa cintaku yang tak
akan berakhir. Aku tak membutuhkan tetes darahmu di malam pengantin
kita. Yang aku butuhkan, di setiap tetes darah yang mengalir di
tubuhmu menyatakan bahwa kau MENCINTAIKU.

~~~~~~~~~~~~~THE END~~~~~~~~~~~~~~~~

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)