Kumpulan Cerita Super Pendek

January 27, 2011

 Powered by Max Banner Ads 

Kumpulan Cerita Super Pendek

Kumpulan cerita super pendek? hmmm.. beberapa orang menyebutnya sebagai flash fiction. Tetapi temenku Ajie (dan juga aku) sepertinya lebih nyaman menyebutnya Cer(su)pen. Whatever that, yang jelas cerita seru ini adalah sebuah tipe karya sastra klasik yang mengungkapkan sebuah cerita super singkat yang biasanya satu paragraf.. tetapi sarat inspirasi dan bisa memberi ribuan makna dibalik puluhan kata-katanya.

Banyak sekali cerita sejenis ini yang pernah aku baca, tapi yang ini sepertinya agak lain.. cerita seru ini tidak berbicara tentang rayuan atau romantisme, dia berbicara tentang hidup! Ungkapan-ungkapan praktis yang sempat membuatku tersenyum dan pada saat yang sama pula dahiku berkernyit, “Apa yang dia coba ungkapkan?”

Beberapa diantaranya berupa cerita dewasa (maaf), dan beberapa diantaranya berupa cerita lucu sekalipun sesuatu yang (sangat) serius ada dibaliknya. Susunan-susunan kalimat mini yang seolah mengajakku berpikir lebih jauh tentang apa yang ada dan yang sedang terjadi di sekitarku.. ^^

—————————————

VETERAN
Di pertigaan Tugu Lilin Solo ini, dulu saat Class ke-2, saya berdarah-darah karena diserempet peluru Kompeni. Kini, di tempat yang sama, dengan baju veteran kebanggan saya, saya kembali berdarah-darah diserempet Motor Ninja.

SUMUR
2 bulan SPP belum dibayar. Besok, Bu Guru pasti marah lagi padaku. Dan sepatu ini terus saja membuatku malu. Teman-teman suka mentertawakan jari-jariku yang keluar dari ujung sepatu. Aku malu masuk sekolah. Aku cari tali, tetapi di rumahku tak ada tali. Dan tiang-tiang kayu di rumahku tampaknya juga terlalu lapuk. Kini, aku berjalan menuju sumur di belakang rumah.

GUNUNG
Dari Top Roof kantornya yang terletak di lantai 7, Pram memandang jauh ke timur, ke sebuah Gunung yang berdiri megah jauh di sana. Tiba-tiba semilir dinginnya angin pengunungan dapat dirasakan oleh kulitnya. Ketika menoleh ke bawah, Ia melihat rumput-rumput hijau tumbuh di lantai beton yang di pijaknya. Lalu, sebuah Id Card Biru tampak melayang pelan dari lantai 7 bangunan itu.

HEADLINE
“Istriku, berita yang aku tulis berhari-hari dengan perjuangan itu akhirnya jadi Headline hari ini!” Malamnya, seorang lelaki bertamu ke rumah menemui suaminya. Ketika Sang Istri sedang membawa kopi ke ruang tamu, koran dengan headline yang ditulis suaminya telah bersimbah darah. Lelaki yang bertamu tadi, hilang entah kemana.

KEBIASAAN
Lelaki itu segera mengenakan celana dalamnya. Ia lalu mengambil dompet di celana panjangnya, dan cepat-cepat menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan kepada seorang wanita yang telanjang di atas tempat tidur. Wanita itu tiba-tiba menampar pipinya dan berteriak, “Mas, aku ini istrimu!!!”

PIKNIK
Sepeda Jengki tua yang dinaiki Yati dan bapaknya berhenti di depan Gerbang Taman Jurug, Solo. “Ti, kita piknik di sini saja, ya!”, kata Sang Bapak sambil mengusap air mata di pipi Yati. Tetapi, air mata Yati terus meleleh makin menjadi-jadi tatkala melihat Bis Pariwisata melintas di depannya. Di dalam Bis tampak teman-teman sekelas Yati melambaikan tangan kepadanya.

MEMBELIMU
“Aku sudah membelimu! Jadi, terserah aku mau mukulin kamu atau mau ngapaian kamu!” Pria itu berteriak sambil tangannya menunjuk sederetan uang yang disusun indah dalam sebuah bingkai berukir yang tergantung di dinding rumah. Uang itu berjumlah, dua juta, sepuluh ribu dua ratus, sepuluh rupiah.

SAWER
Marni menggenggam uang 50 ribuan lusuh. Seorang pria dengan bau minuman keras yang menyengat, menyelipkan uang tersebut ke dalam BH-nya, tadi malam. Bau minuman keras itu tak jua hilang. Setelah ia membayangkan harumnya aroma nasi yang baru masak, untuk sarapan anak-anaknya nanti, Marni baru bisa menghilangkan bau aroma minuman keras tadi.

PAHLAWAN
Jalanan malam itu sungguh sepi. Aku hampir saja mati jadi korban tabrak lari, kalau saja Kakek Tua itu tidak muncul menolongku, memapahku ke rumah Mantri Desa di ujung jalan ini. Sebelum pagi menjelang, kakek itu pergi berlalu, berjalan menembus sebuah tembok putih, tembok sebuah makam pahlawan.

TERTIPU
Aku tertawa keras dalam kematianku! Mereka semua tertipu! Mereka berteriak “Tuhan!”, tetapi aku melihat sendiri, yang datang hanyalah setan-setan ketika mereka membunuhku. Sesungging senyum puas terlukis di wajahku, wajah di sebuah kepala yang kini terapung sendirian di atas Bengawan, meninggalkan badanku.

KANKER
Seorang wanita cantik terbatuk-batuk parah. Sangat parah hingga setiap kali ia terbatuk, darah segar muncrat dari bibirnya. Tak lama kemudian wanita cantik itu mati. Sebuah makam dengan gaya punden berundak bak putri bangsawan di anugerahkan kepadanya. Dengan huruf jawa kuno, dituliskan sebuah nama di nisannya, “Rara Mendut”.

SAMA
Joni yang setengah mabuk mengencani pelacur di sebuah bilik bambu belakang terminal. “Jangan Nungging!”, bentaknya kasar. Dan, ketika pelacur itu membalikkan badannya. Joni seketika muntah-muntah. Joni kaget melihat pelacur tersebut, Ia seakan melihat bayangannya sendiri di dalam cermin!

MALAIKAT
Ketika ia menarik tanganku, maka seketika itu juga rasa sakit, perih dan panas yang mendera perutku tiba-tiba saja sirna. Awalnya aku tak begitu jelas memperhatikan kehadirannya di antara kerumunan orang di sekitarku. Tapi sosoknya mulai tampak terlihat jelas, ketika Marno menuangkan cairan pengusir nyamuk ke dalam gelas minuman keras yang aku tenggak malam itu.

RESTAURANT
Lelah kerja lembur berhari-hari yang dirasakan Karto hilang sudah. Ia akhirnya punya cukup uang untuk mengajak Suti, anaknya, makan di sebuah restoran cepat saji. Dengan bersepeda mereka berdua kesana lalu memesan sepotong ayam serta segelas soda untuk anaknya. Matanya berkaca-kaca ketika ia memandangi Suti yang tampak begitu bahagia menikmati sepotong ayam yang diimpikannya.

AYAHKU?
“Bu itu siapa?” Tanya seorang anak kecil kepada Ibunya. “Itu ayahmu”. “Lalu wanita itu siapa?” “Itu istrinya”. Kalau lelaki itu ayahku, lalu lelaki yang di rumah kita siapa?” “Lelaki itu suamiku, ayahmu juga.” Sampai larut malam, anak kecil itu masih bingung atas jawaban ibunya. Tuhan begitu mencintainya, lalu memberinya mimpi indah tentang sebuah taman bermain yang terbuat dari coklat.

BAYI
Ketika akan menggendong bayi yang baru saja lahir dari rahim istrinya, Andre tiba-tiba termangu dan kebingungan ketika melihat bayi tersebut memiliki rambut ikal yang tebal. Di luar ruangan, tampak Sukro,  supir pribadi Andre, mengintip dari balik pintu kamar bersalin tersebut. Ia menghela napas lega dengan seraut wajah yang sangat bahagia ketika melihat bayi mungil itu.

PARABOLA
Ketika aku kecil, orang-orang di desaku sering berkata, “Denok, parasmu begitu ayu, kelak ibumu akan sangat beruntung memilikimu.” Aku baru menyadari benar arti kata itu ketika aku berumur 15 tahun, saat Pak Hasan datang ke rumah membawa penghulu untuk menikahiku selama 3 bulan lamanya. Lalu kulihat Ibuku begitu bahagia karena memiliki parabola baru.

ORDER
“Bro, ada orderan tajir. Jam delapan di hotel biasa, kamar 603. Jangan lupa Bro, 30 persennya buat aku!” Berbekal sms itu, aku memasuki lobby sebuah hotel berbintang empat dan langsung menuju kamar 603. Di dalam kamar, ketika wanita setengah baya tersebut menoleh ke arahku, kami berdua saling bertatapan dan sama-sama terdiam kaku. “Damn! Ini reuni keluarga yang sungguh aneh”, makiku dalam hati.

STASIUN
Di stasiun pinggiran kota, Annelies duduk di bangku menunggu kekasihnya tiba. Hatinya cemas mendengar kabar bahwa ada kekacauan jauh di Batavia sana. Sebuah penerbitan pers diserbu tentara kerajaan, beberapa orang terbunuh, banyak yang ditangkap. Berpuluh-puluh tahun kemudian, kuli dan tukang batu yang merenovasi stasiun itu, masih melihatnya menunggu di bangku yang sama.

PERTAMA
Waktu kita pertama kali bersama-sama melakukan dosa itu, aku kira engkau menitikkan air mata karena takut akan azab dari dosa yang kita lakukan. Setelah aku bertanya, ternyata engkau menitikkan air mata karena menahan perih, karena memang belum terbiasa melakukannya.

———————

Great story from Aji, Thanks.. ^^

http://www.ceritainspirasi.net/kumpulan-cerita-super-pendek/

Did you like this? Share it:

Related posts:


 Powered by Max Banner Ads