Menembus Ilusi Dunia

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

 

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai

Ini adalah suatu cerita dari India. Suatu waktu ada
seorang Guru tercerahkan meminta muridNya untuk
meninggalkan keduniawian dan bergabung dengan ordo
biarawan/biarawati Nya. Akan tetapi, muridNya berkata
bahwa isteri, orang tua dan seluruh kerabatnya sangat
mencintai dia, dan dia tidak dapat meninggalkan
mereka. Kepergiannya akan membawa duka yang memilukan
bagi keluarganya. “Baiklah, biarkan saya menunjukkan
kepada anda seberapa besar anggota keluarga mu
mencintai kamu,” kata Gurunya.

Bersama-sama, mereka datang ke rumah sang murid. Lalu
Gurunya memberikan sebuah pil kepada muridnya dan
bersembunyi di luar, berpura-pura menjadi orang asing.
Setelah menelan pil itu, sang murid menjadi seperti
orang mati, tidak mempunyai detak jantung atau nafas.
Tubuhnya berubah menjadi kaku dan dingin seperti es.
Anggota keluarganya tiba-tiba menangis tersedu-sedu,
menangis dan memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan
dia, tetapi tidak ada jawaban.

Tiba-tiba sang Guru masuk dan berkata kepada mereka,
“Saya dapat menyelamatkan saudara anda.” Mendengar hal
ini, mereka menjadi sangat gembira. Mereka berlutut
dan memohon kepadanya untuk tidak menghabiskan waktu
menyelamatkan laki-laki itu. “Tetapi ada satu syarat,”
kata Gurunya. “Supaya dia bisa dibangkitkan lagi, maka
satu orang harus mati menggantikan dia, karena ini
adalah hukum sebab dan akibat. Jika saya membangkitkan
dia dari mati, maka saya harus mati menggantikan dia.
Tetapi saya bukan keluarganya! Dia adalah keluarga
kalian. Karena kalian begitu dalam mencintai dia,
kalian mestinya akan sangat bahagia bisa mati untuk
dia. Saya hanyalah orang yang kebetulan lewat saja.
Bagaimana saya dapat mati untuk dia ? Jadi jika salah
satu dari kalian bersedia mati untuk dia, saya dapat
segera membawa jiwanya kembali. Karena kita tidak
dapat melampaui hukum sebab dan akibat, satu
pertukaran harus dibuat.”

Tidak ada satupun keluarga yang bersedia mati untuk
dia . Mereka menemukan alasan yang sangat bagus. “Jika
saya mati, siapa yang akan mengurus rumah ini?” “Jika
saya mati, siapa yang akan mengurus bisnis ini?”
Walaupun isteri dari sang murid sangat mencintainya,
dan menangis dengan putus asa dan berguling-guling di
lantai, dia menjawab, “Tidak, tidak! Jika saya mati,
tidak akan ada orang yang menjaga dua anak saya.” Lalu
mereka berkata, “Oh, baiklah! Lelaki itu sudah mati.
Jadi biar sajalah. Biarkan kami mengirim jasadnya
untuk dikremasi.” Mendengar hal ini, sang murid segera
bangun dan berkata, “Saya belum mati!” Lalu dia
mengucapkan selamat jalan kepada keluarganya dan pergi
bersama Gurunya.

Ada banyak cerita seperti ini. Adakalanya, pada waktu
kita mencintai seseorang, atau apabila seseorang
mencintai orang lain, selalu ada banyak aspek
ketidaksempurnaan. Biasanya kita tidak mencintai orang
lain sampai dengan tahap melupakan diri kita sendiri,
atau sampai tahap bersedia mati untuk mereka.
Karenanya, dalam hal tertentu, kita tidak tahu
Kebenaran tanpa pengalaman pribadi. Kita hanya
merasakan penampilan luar saja , yang belum tentu
benar.

Keterikatan yang kita rasakan pada dunia ini bukanlah
yang terakhir. Adalah lebih baik bila kita tidak usah
kembali lagi, karena bagaimanapun dalamnya kita
terikat, setelah beberapa saat kita juga harus pergi.
Jadi, adalah lebih baik menyiapkan diri terlebih
dahulu; pada saat keberangkatan, pergi selamanya.
Kalau tidak, lain kali ketika kita kembali lagi, kita
akan menjadi terikat lagi, dan sibuk satu dengan
lainnya. Setelah beberapa saat, kita juga harus pergi.
Sekali lagi pada saat itu, keluarga kita akan
merasakan pilu yang luar biasa. Oleh karenanya, jalan
yang terbaik adalah jika kita pergi sekali dan untuk
selamanya, tanpa adanya keinginan untuk kembali lagi
mengganggu yang lain. Ini juga merupakan suatu sikap
balas budi. Tidakkah kalian berpikir seperti itu ?
(Hadirin : Ya).

Inilah hubungan antara suami dan isteri. Setelah
beberapa saat, setiap orang pergi ke jalannya
masing-masing. Karena dua-duanya merasakan begitu
terikat dan menderita pada saat berpisah, janganlah
mengulanginya lagi. Karenanya, kita harus bersiap
sedia secara rohani. Adalah lebih baik pergi dengan
sikap yang jelas dan bersih. Jangan kembali lagi untuk
memainkan peran yang menyakitkan ini. Jika tidak, kita
akan sengsara dan demikian juga pihak yang lainnya.
Apa baiknya bagi kita?

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)