Pertolongan Pertama untuk serangan Stroke (yang benar)

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Abdurahman, 43 tahun, pernah punya kebiasaan menyiapkan jarum di dekat
tempat tidurnya. Dia bukan sedang menjalankan “laku” untuk mendalami
ilmu tertentu. Jarum itu adalah alat pertolongan pertama. “Jika
terserang stroke, saya atau istri siap bertindak,” katanya. Tapi itu
dulu.

Rahman pernah terpengaruh berita yang luas beredar di mailing list
mengenai pertolongan pertama pada stroke. Di dalam tulisan yang tak
ketahuan asalnya itu dinyatakan, bila terkena serangan stroke, segera
tusukkan jarum ke 10 ujung jari tangan. Titik penusukan kira-kira satu
sentimeter dari ujung jari. Gunanya agar darah keluar dan penderita
serangan stroke segera pulih kembali.

Sepintas, cara ini masuk akal. Sebab, jika orang terkena stroke,
terjadi pembekuan darah ke otak. Nah, tusukan itu mengakibatkan reaksi
dari pembuluh darah, sehingga kembali lancarlah aliran darah.

Pengertian stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak secara
mendadak atau tiba-tiba akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah
otak. “Nah, jika serangan stroke karena pembuluh darah pecah,
penusukan justru mempercepat kematian,” kata dokter ahli stroke, Salim
Harris. Dengan kata lain: jangan percaya pada saran tak berdasar
seperti itu. Risikonya terlalu besar.

Lalu Salim, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia Cabang Jakarta, menunjukkan cara penanganan stroke sebelum
pasien dibawa ke dokter. Pertama, pasien diletakkan dalam posisi tidur
telentang dan diberi bantal hingga kepala membentuk sudut elevasi
sekitar 30 derajat. Ini memberikan kesempatan agar aliran darah balik
ke arah bawah tubuh. Setelah sekitar 30 menit, baru si pasien dibawa
ke rumah sakit.

Justru si penderita jangan didudukkan atau digerakkan bagian tubuh
lainnya—seperti saran di milis. Sebab, bila itu dilakukan, si pasien
akan makin kekurangan oksigen. “Karena tiap gerakan membutuhkan
oksigen. Sedangkan saat terserang stroke, tubuh sedang kekurangan
oksigen,” ujar Salim.

“Jangan diberi minum, termasuk air gula. Walaupun bisa, jangan
dibiarkan jalan atau duduk di mobil,” ujarnya. Minuman dikhawatirkan
merusak organ tubuh lainnya, dan jika masuk ke paru-paru malah bisa
berakibat infeksi. Pokoknya, posisi yang terbaik adalah terbaring
dengan bantal di kepala seperti disebut di atas.

Larangan lain adalah memberikan obat-obatan darah tinggi. Menurut
Salim, tekanan darah yang ekstrem tinggi ataupun rendah sama bahayanya
bagi penderita serangan stroke.

Karena itu, jika pasien terserang stroke, harus dilihat dulu
penyebabnya secara keseluruhan. “Saya saja sebagai dokter harus
melihat hasil CT scan untuk mengambil langkah atau terapi yang tepat.
Tak bisa dengan cara ditusuk-tusuk jari atau telinganya,” ujarnya.
Pemindai (CT scan) merupakan pemeriksaan standar terbaik (baku emas)
untuk stroke.

Dalam serangan stroke terkenal istilah “time is brain” dan “the golden
hour”. Makin cepat pengobatan makin meminimalkan gejala sisa dari
stroke. Masa jeda penyelamatan, yang dikenal dengan istilah jendela
terapi (therapeutic window) stroke, adalah enam sampai delapan jam
setelah serangan. Penanganan dini yang benar setidaknya akan
mengurangi angka kecacatan penderita serangan stroke hingga 30 persen.

Memang wajar jika stroke menjadi momok bagi banyak orang. Sebab,
stroke bersama penyakit jantung koroner termasuk penyakit
kardiovaskuler pembunuh nomor satu di dunia. Diperkirakan setiap tiga
menit satu orang meninggal akibat penyakit tersebut. Ganasnya penyakit
ini menjadi penyebab utama kecacatan pada orang dewasa.

Pada penderita stroke akan terjadi penurunan kualitas hidup sangat
besar. Penderita juga sangat bergantung pada keluarga atau orang di
sekitarnya. Kecacatan yang terjadi bisa bersifat permanen sehingga
menimbulkan masalah lain yang tidak kalah peliknya.

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)