Tidak Ada Menantu Perempuan yang Tak Berbakti, yang Ada Hanya Anak Laki-lakinya yang Tidak Dewasa! Sebenarnya Sikap Seorang Pria Itu Menentukan Sikap Isterinya

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

 Seorang wanita yang baru menapak ke jenjang pernikahan, masalah pelik pertama yang ditemui adalah hubungan antara mertua dan menantu.

Mereka sendiri tidak percaya diri apakah bisa menjadi seorang menantu yang baik.

Selain itu juga karena seringnya mendengar tentang “mertua jahat,” bahkan akan membuat si wanita mundur sebelum melangkah ke dalam rumah tangga karena hubungan itu.

 Tapi sebenarnya, kaum wanita selalu berusaha mengatasi hubungan tersebut.

Tidak ada menantu perempuan yang tak berbakti, yang ada hanya anak laki-lakinya yang tidak dewasa, pria inilah yang mengaitkan kedua wanita itu.

Seorang pria yang pintar, pasti akan selalu membuat ibu dan istrinya bahagia.

 Dia tidak akan membuat dirinya nelangsa oleh karena hubungan antara ibu dan menantunya.

1. Anak laki-laki yang dewasa berperan sebagai kepala dalam bakti kepada bapak-ibu mertua.

Banyak pria yang berpikir seperti ini, “Orang tua saya membesarkan saya dengan susah payah, jadi kamu harus berbakti kepada orang tua saya.”

Sebenarnya kalimat ini tidaklah logis.

Seorang wanita yang menikah dengan anda, kemudian menjadi bagian keluarga anda, padahal dia dan orang tua Anda tidak ada hubungan darah, namun, karena Anda, dia baru “masuk menjadi anggota keluarga anda.”

Benar, orang tua Anda dengan susah payah membesarkan anda, tapi mengapa harus isteri anda yang merawat orang tua anda, bukannya seharusnya anda yang merawatnya?

Banyak kontradiksi antar ibu mertua dengan menantu, dan menuduh sang istri/menantu “tidak berbakti.”

Sebenarnya sikap Anda selaku suami itu yang menentukan sikap istri anda.

Ketika anda, selaku anak berbakti, maka dengan sendirinya istri juga akan mengikutinya.

Karena dia mencintai Anda, maka dia memanggil orang tua anda sebagai ayah-ibu.

Jika anda peduli dan perhatian untuk merawat ayah ibu, maka istri anda juga sudah barang tentu tidak berani lalai, sehingga hubungan ibu mertua – menantu pun akan menjadi harmonis seperti layaknya ibu dengan putrinya.

 

2. Anak laki-laki yang dewasa akan membuat isterinya menjadi orang yang baik

Satu hal penting untuk menyelesaikan kontradiksi antara ibu dan menantu adalah meningkatkan keakraban antara ibu dengan menantu, dan suami yang cerdas akan memberi kesempatan menjadi orang baik itu pada istrinya.

Saat hari raya, belilah sesuatu untuk menghormati atau sebagai bentuk bakti menantu pada orang tua.

Sering-sering membimbing isteri untuk memuji mertua di rumah, memuji masakannya enak, memujinya pintar mengelola keluarga yang harmonis, atau hal-hal yang menyenangkan orangtua, semua itu biarkan istri yang melakukanya.

 Meski anda yang melakukannya, tapi jangan lupa juga mengatakan bahwa itu maksud baik istri anda.

Yang namanya manusia itu punya perasaan, tidak ada orang yang akan acuh tak acuh terhadap niat baik seseorang.

Kalau isteri sudah banyak melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan keluarga mertua, maka sebagai mertua ia akan merasa bahwa menantunya orang yang bisa menyesuaikan diri, dan dengan sendirinya ia juga akan senang.

 Jadi tidak logis kalau hanya masalah sepele lalu tidak harmonis dengan sang menantu.

Selain itu, istri anda juga bisa merasakan dengan upaya yang Anda lakukan untuknnya, dan ia akan semakin cinta juga sayang pada anda karena perhatianmu itu.

 

3. Anak laki-laki yang dewasa tidak akan memperdebatkan siapa yang benar atau salah

Rumah adalah tempat mencurahkan cinta dan kasih sayang, bukan memperebutkan siapa yang lebih berkuasa, atau memperdebatkan siapa yang benar atau salah.

Sebenarnya, tidak ada masalah yang berarti antara ibu mertua dengan menantu, timbulnya suatu masalah itu juga tidak lebih hanya karena masalah sepele di rumah.

Misalnya berselisih soal memasak dengan air panas atau air dingin, keadaan rumah yang tidak bersih, selalu mengajak anak-anak makan di luar atau semacamnya.

Jadi dalam hal-hal seperti ini tidak bisa saling menyalahkan.

Satunya adalah isterti anda, satunya lagi adalah ibu anda, apa anda bisa/tega bilang siapa yang benar dan salah?

Jika terjadi gesekan kecil seperti ini, maka posisi sebagai anak laki-laki itu sangat penting.

Jika berdiri di posisi ibu, menyalahkan istri, maka si istri dirugikan. Jika berdiri di posisi isteri, perasaan ibu tentu akan terluka.

Jadi, bersikap netral, tapi berusaha saling menyenangkan kedua belah pihak.

 

4. Anak laki-laki yang dewasa tidak bertengkar dengan isteri di depan mertua.

Yang namanya rumah tangga, hidup dalam satu atap, pasti tak terhindarkan akan terjadi gesekan dan berselisih.

Namun, kalau pun bertengkar juga jangan di depan mertua.

Karena secara tidak langsung hal ini akan memberi isyarat (negatif) pada mertua.

Pertama, mertua akan menganggap menantunya yang salah, sehingga menyebabkan pertengkaran dengan anda, dan tentu saja dalam hal ini ibu anda akan berdiri di posisi anda.

Dan jika begitu terus, maka mertua juga tidak akan menghargai isteri anda, sehingga memperdalam kontradiksi antar mertua -menantu.

Sementara itu, isteri anda hanya bisa secara diam-diam mengeluh dan merasa disalahkan. Tidak ada tempat curhat

Dia akan merasa tidak mendapatkan perlindungan/pembelaan dari suami, lalu merasa kecewa dengan pernikahan, atau bahkan ingin melarikan diri, hingga akhirnya membuat Anda berdua yang terluka dan berdampak pada pernikahan.

5. Anak laki-laki yang dewasa akan bersikap sama dalam memandang ayah-ibu mertuanya seperti orantua kandungnya sendiri

Mungkin ada yang ingin bertanya, apa hubungannya dengan mertua – menantu? Tentu saja ada hubungannya.

Ketika seorang pria menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri untuk berbakti, peduli dan perhatian, maka wanita/isteri yang nikahi itu dengan sendirinya juga akan mengingat sikap anda.

Wanita adalah makhluk yang emosional, jika Anda memperlakukan orang tuanya dengan sikap yang baik, maka dia juga akan peduli dan menunjukkan perhatian pada bapak-ibu mertuanya.

Saat hari raya anda membawakan hadiah/oleh-oleh untuk mertua anda, maka isteri anda juga akan menunjukkan perhatian yang sama.

Cintai dan sayangi orang yang disayangi isteri/suami anda.

Sebenarnya, kaum wanita menyadarinya, bahwa ia tidak akan pernah bisa lepas dari keluarga dan orangtua dari suaminya ketika menikah dengan seorang pria.

Bahkan meski hidup secara terpisah dan tidak membutuhkan mertua untuk membantu menjaga anak, karena hubungan darah antara keduanya itu selalu ada.

Jadi bagaimana wanita itu bersikap, semua itu tergantung dari sikap si pria.

 

6. Anak laki-laki yang dewasa akan mengelola dengan baik hubungan suami istri mereka sendiri.

Ada pepatah yang mengatakan, “Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara mertua-menantu, kuncinya terletak pada hubungan antara suami dan istri.”

Seorang wanita yang benar-benar mencintai suaminya, maka dia juga akan mencintai orang tua suaminya dengan tulus.

Bila Anda mengenal dengan baik wanita itu (isteri), bisa memahami perasaannya, dan menyadari kesulitannya, maka sudah barang tentu anda tidak akan tega melihat batinnya tersiksa, dan peduli padanya, sehingga kalian akan saling mendukung, dan bisa mencapai kesepakatan dalam banyak hal.

Meski ada kontradiksi antara mertua-menantu, namun, atas dasar cintanya pada Anda, dia bersedia menunjukkan kelemahan untuk mencairkannya, sekali pun harus mengorbankan perasaannya demi keharmonisan itu.

Karena dia tidak ingin hubungan mertua-menantu itu menyebabkan kesulitan pada anda, dan merusak suasana keharmonisan kalian, tapi juga karena dia bersedia menghadapi masalah itu dengan Anda.

Jadi, kelolalah dengan baik hubungan antara suami dan istri itu, karena dengan terjalinnya hubungan yang harmonis antar suami isteri, maka sebesar apa pun kontradiksi antara mertua-menantu juga bukan masalah yang berarti.

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)