Untukmu

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)

Aku capek……
capek……………
capek sekali …………………..

Rasanya hati ini sudah begitu pengap…..
betapa banyak rasa yang sudah aku kuburkan
aku pendam secara paksa
saat meladeni-nya setiap hari
saat mendengar celotehnya yang bernada complain
saat mengingatkannya minum obat
saat menyuapinya ketikat ia “enggan” bergerak
saat tengah malam ketika tidur nyenyak, dibangunkannya hanya untuk
menemaninya ke toilet
bahkan saat aku harus berpisah dgn istriku, lantaran sikapnya yang selalu
bermusuhan

Apalagi yang bisa aku pertahankan saat ini
kesabaranku sudah berada di ambang batas…………
Salahkah ya Allah bila aku juga complain

Pagi tadi habis sudah kesabaranku
saat aku harus segera ke kantor menghadiri meeting penting
sempat-sempatnya ia memintaku menemaninya ke tukang jahit
Dengan nada kesal, kutolak permintaannya
ku-bilang kali ini benar-benar tidak bisa mengikuti kemauannya
Seperti biasanya, ia tetap memaksaku……….
dengan nada tinggi kutolak, seraya pergi ke mobil
meninggalkannya tanpa menoleh kebelakang
Sekelebat kulihat kekecewaan yang dalam di matanya yang cekung

Dalam meeting, pikiranku kacau
apa yang terdengar dan terlihat bagai tak berbekas di kepalaku
semuanya hilang, konsentrasiku terpecah

Siangnya kutenangkan pikiran di Musholla
Sangat beruntung saat itu sedang berlangsung ceramah bulanan
yang rutin di laksanakan sebulan sekali oleh Majelis Taklim
Dengan gamblang Sang Ustadz memaparkan tentang “Surga”

Kurasakan sangat lambat hari menuju petang
tak sabar aku ingin segera pulang dan menemuinya
teringat pagi tadi kutinggalkan dengan kesedihan di matanya

Dalam perjalanan pulang terputar kembali rekaman masa lalu
memori yang secara tak sadar terlupakan
mungkin oleh kebanyakan anak manusia
saat ia tak mengeluh membawaku 9 bulan setiap waktu
saat ia dengan sabar menghentikan tangis “complain”ku
saat ia dengan rela memberikan seluruh waktunya untukku
saat ia dengan ikhlas memberikan susunya padaku
saat tengah malam ketika tidur nyenyak, ia terbangunkan untuk mengganti
popokku
bahkan saat ia harus menggadaikan nyawanya, lantaran posisi tubuhku saat
dilahirkan

Kembali terdengar ucapan Sang Ustadz saat ceramah siang tadi
“Andai seluruh isi Jabal Nur dan Laut Merah kau bayarkan,
belumlah cukup untuk melunasi hutangmu padanya”

Sampai di rumah, ada yang kurasa berbeda
yang biasanya ia selalu menungguku di teras rumah
kali ini tak terlihat bayangannya sekalipun
Tak sabar ingin aku menemuinya
di ruang TV keluarga, tak ada
kucari di kamarnya, tak ada
di dapur, tak juga ada
Ketika melewati kamarku baru kutemukan ia ada di dalam
dengan senyum-nya yang indah menyambutku
kenapa baru sekarang kuingat kalau senyum itu begitu indah

Di tangannya yang kering ada sehelai baju warna biru kesukaanku
“Selamat Ulang Tahun” katanya
Dug……… dadaku terhenyak, karena baju itu ia memaksaku ke tukang jahit
Rupanya ia ingin memberikan hadiah khusus untukku
tangannya yang renta tak sanggup lagi menjahitkan baju
seperti dulu yang biasa ia lakukan untuk kami sekeluarga
mata tuanya tak lagi bisa melihat jarum dan benang
Sebuah kebiasaan penuh kasih sayang yang tidak pernah dilakukan mantan
istriku sekalipun
yang hanya bisa membelinya di mall atau boutique

Beribu rasa dosa menghujam sanubari
dan berjuta penyesalan menari di sekelilingku

Hari ini, ijinkan aku ……………..
bersimpuh dan mencium kakimu IBU

(Dipersembahkan untuk seluruh IBU di dunia)

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)